Perlengkapan senjata Allah

Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” (Ef 6:13)

Saat Paulus menyebutkan bahwa sebagai org percaya kita harus mengadakan perlawanan (tidak menyerah oleh) terhadap ‘hari yang jahat’,  ia menggunakan kata Yunani: Ponēros, yang memiliki arti: kerja keras, hal-hal yang mengganggu, hal-hal (kehidupan) yang keras…

Tidak dapat di pungkiri, di sekeliling kita, kehidupan yang harus di jalani oleh kebanyakan orang adalah betul-betul kehidupan yang keras; menuntut orang untuk harus bekerja keras jika ia tidak ingin hidup dalam kekurangan. Tapi Paulus kembali menegaskan sebetulnya ‘hari yang jahat’ tersebut (yang mengkondisikan untuk semua orang yang ada ‘didalamnya’ harus bekerja ‘dengan keras’ demi dapat menyambung hidupnya) adalah merupakan sebuah sistem yang di bangun oleh si jahat untuk dapat memperbudak dan memaksa org utk memiliki kehidupan yg makin hari jadi makin bertambah jahat, individualistik, tamak, di bayang-bayangi ketakutan & kekuatiran akan hari esok… Setiap orang percaya trs di kondisikan oleh si jahat utk tertipu agar kembali hidup didlm ‘hari yg jahat’ itu walau sesungguhnya mrk sdh di beri anugerah utk melangkah memasuki hari yg baru di dlm Dia, hidup di bawah langit yg baru dan bumi yg baru….

1. Di butuhkan pola hidup yang baru untuk dapat menikmati langit & bumi yang baru secara berkesinambungan.
Saat orang percaya meleburkan diri dalam sebuah gereja lokal yang bergerak dalam kuasa Kerajaan dan memberi diri untuk kehidupan sehari-harinya di bentuk ulang oleh seorang bapa rohani, sesungguhnya ia sedang memberi dirinya untuk di establish-ing dalam langit & bumi baru tersebut. Untuk seseorang selalu menikmati langit & bumi baru, ia membutuhkan firman (yang tidak hanya untuk didengarkan tapi di hidupi). Tapi untuk membawa firman menjadi ‘hidup’ dalam kehidupan sehari-harinya, ia membutuhkan seseorang untuk menolongnya – disinilah peranan gereja lokal & seorang bapa rohani memegang peranan yang sangat penting.

Pola hidup & sudut pandang yang selama ini kita miliki (yang sudah terlanjur tercetak menurut dunia ini; jika tidak di rombak, akan selalu mengkondisikan diri kita untuk kembali hidup dalam sistem babel – ada didalam ‘hari yg jahat’) membutuhkan perombakan total dan perombakan tersebut akan dengan cepat dapat kita lakukan saat kita memiliki orang yang memberi contoh bagaimana menjalani kehidupan dengan pola pikir & gaya hidup yang baru (yang Ilahi). Hanya saat kita ada dalam sebuah gereja dengan pengayoman seorg bapa rohani, kita akan dapat menikmati adanya ‘pola Ilahi’.
2. Kita membutuhkan anugerah untuk hidup terlepas dari ketergantungan terhadap mamon.

‘Hari yang jahat’ selalu memiliki keterkaitan yang erat dengan mengalami kekurangan secara finansial, memiliki ketergantungan terhadap mamon! Selama kita masih bersinggungan dengan sistem dunia ini, kita memang akan tetap membutuhkan uang sebagai sarana untuk ‘menggerakkan’, ‘memenuhi’ segala sesuatu tapi bukan berarti kita membiarkan uang menjadi ‘segala-galanya’ dlm hidup kita…. Mempergunakan uang sebagai ‘sarana’ tidak boleh membuat kita jadi memiliki ketergantungan terhadap uang dan jadi memiliki persepsi bahwa kalau kita tidak memiliki (atau kurang memiliki) uang maka kita jadi tidak bisa berbuat apa-apa…!
Pola hidup & sudut pandang yang membuat kita tidak hidup dalam ketergantungan terhadap mamon sudah Tuhan bangun dalam hidup seorang bapa rohani. Yang harus kita lakukan hanyalah ‘mencangkok & menumbuhkannya’ dalam kehidupan kita sebagai seorang anak rohani. Seberapa serius kita berkeinginan membangun gaya hidup Ilahi, Tuhan-pun akan memberi anugerah & ikut ber-perkara dalam hidup kita….

(Ps. Steven Agustinus)