Tolak pernikahan sejenis, pendeta masuk penjara

Gara gara menolak pernikahan sejenis, dua orang Hamba Tuhan yang memiliki sebuah usaha kapel pernikahan di Idaho Amerika Serikat dituntut untuk segera melangsung-kan pernikahan sesama jenis atau akan di penjara dengan denda $ 1.000,-  sesuai dengan gugatan yang diajukan Jumat sebelumnya di pengadilan federal.

Aliansi Pembela Kebebasan yang diwakili Donald dan Evelyn Knapp, sudah memerintahkan hal ini kepada pemilik Kapel Pernikahan “Hitching Post” di Coeur d’Alene. “Sekarang mereka beresiko dituntut, dan ancaman hukuman-nya juga tidak ringan” kata pengacara ADF mereka, Jeremy Tedesco

Menurut gugatan itu, kapel pernikahan milik pasangan ini memang terdaftar di negara sebagai “perusahaan agama” yang aktivitasnya terbatas pada menyediakan tempat dan melangsungkan “pernikahan satu orang laki laki dengan satu orang perempuan seperti yang didefinisikan oleh Alkitab.”

Tapi kapel itu juga terdaftar sebagai usaha nirlaba yang menyediakan tempat pernikahan, bukan sebagai gereja atau tempat ibadah, dan pejabat kota mengatakan bahwa pemilik harus tunduk pada peraturan pemerintah, dan sesuai dengan peraturan pemerintah mereka tidak boleh melakukan tindakan diskriminasi berdasarkan orientasi seksual. Dan undang undang ini juga berlaku terhadap semua perusahaan, termasuk property, perusahaan tenaga kerja dan penyedia akomodasi publik.

Menurut Jaksa Penuntut Umum Warren Wilson, chapel Hitching Post adalah tempat yang bisa di akses dan digunakan oleh masyarakat umum dan mereka diwajibkan tunduk pada peraturan yang berlaku, dan hal ini juga sebagai peringatan buat yang lain, apabila ada chapel pernikahan yang menolak menikahkan pasangan sejenis maka mereka dinyatakan melanggar hukum. Pemilik chapel “Hitching Post” akan menghadapi tuntutan hukuman penjara selama 180 hari dan denda sebesar $1.000,-

Tedesco berkata “tidak seharusnya pemerintah memaksakan seorang pendeta atau pelayan Tuhan untuk melakukan hal yang bertolak belakang dengan iman-nya dan menghadapi ancaman hukuman penjara. Tuntutan ini seharusnya dinyatakan cacat hukum karena pendeta dan pelayan Tuhan ini wajib dilindungi karena menaati iman dan kepercayaan mereka seperti yang tercantum dalam Amendemen Pertama”

Sungguh sulit untuk dipercaya hal seperti ini bisa terjadi di Amerika Serikat, mereka sekarang dalam keadaan takut bahwa mereka mungkin akan masuk penjara dan membayar denda yang cukup besar, dan juga kemungkinan besar mereka akan kehilangan bisnis yang Tuhan telah percayakan selama ini dan telah mereka kerjakan dengan setia selama 25 tahun. ”

Kenapa seorang Evangelis, Pendeta, Gembala dan pelayan Tuhan harus dipaksa untuk menyelenggarakan dan turut merayakan pernikahan sejenis yang jelas jelas bertolak belakang dengan iman percaya mereka ? kita sekarang hidup dalam kondisi dimana para pendukung pernikahan tradisional (satu orang laki laki dengan satu orang perempuan) akan mengalami ancaman dan tuntutan hukum.

Memang tidak ada seorang pun yang pantas mendapatkan diskriminasi, namun apakah anda menyadari bahwa larangan diskriminasi terhadap kaum LGBT ini malah menimbulkan diskriminasi yang baru ? ya, diskriminasi terhadap orang kristen.

Sumber :
foxnews.com